Mengenal Vanda Tricolor Anggrek Ikonik DI.Jogyakarta.
Yogyakarta. Cakrawalapedia.com – Universitas Gadjah Mada (UGM) mencatat dan di siarkan Trubus, Sabtu (30/5/2026), salah satu anggrek yang menjadi ikon Daerah Istimewa Yogyakarta ialah Vanda tricolor.
Anggrek ini memiliki ciri khas berupa kelopak bunga berwarna putih dengan totol-totol cokelat kemerahan serta bibir bunga berwarna putih.
Keistimewaan lainnya adalah aroma harum yang kuat pada pagi hari, terutama pada individu yang tumbuh di kawasan lereng Gunung Merapi.
Diketahui Indonesia memang dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman anggrek dunia. Tercatat sekitar 5.000 spesies anggrek tumbuh dan tersebar di berbagai wilayah Nusantara.
Keragaman kondisi lingkungan di setiap daerah melahirkan karakter unik pada masing-masing spesies, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan persebaran anggrek terbesar kedua di dunia. Termasuk yang ada di pulau Kalimantan yang kini menjadi pusat ibu kota negara (IKN) bagaimana menjaga kelestariannya.
Kondisi itu sekaligus menegaskan pentingnya upaya konservasi agar kekayaan hayati tersebut tidak mengalami kepunahan.
Guru Besar Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc., menjelaskan Vanda tricolor memiliki daya tahan yang cukup baik terhadap kondisi panas. Ketangguhan itu terbukti saat erupsi Gunung Merapi pada 2010. Meski terdampak aktivitas vulkanik, anggrek tersebut masih dapat ditemukan dan bertahan di habitat alaminya.
Menurut Endang, hingga kini setidaknya terdapat 59 jenis anggrek Merapi yang dilestarikan di Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM). Namun, keberadaan anggrek-anggrek tersebut tetap menghadapi berbagai ancaman, baik dari faktor alam maupun aktivitas manusia.
Bencana alam, perubahan iklim, hingga pembangunan infrastruktur berpotensi mengurangi populasi anggrek di habitatnya. Hal yang sama terjadi di Kalimantan hutan dan alamnya sangat cepat terdegradasi, sehingga angrek ikonik Kalimantanpun terancam.
Di sisi lain, peluang menemukan spesies baru masih terbuka lebar. Eksplorasi yang dilakukan peneliti maupun masyarakat di kawasan hutan berpotensi mengungkap jenis-jenis anggrek yang selama ini belum teridentifikasi.
Upaya konservasi, lanjut Endang, tidak hanya menjadi tanggung jawab peneliti atau pemerintah. Pendekatan berbasis masyarakat dinilai sangat penting untuk menjaga kelestarian anggrek. Salah satunya dengan mengajak warga di sekitar kawasan hutan dan lereng gunung membudidayakan anggrek di pekarangan rumah yang menyerupai habitat aslinya.
Bersama komunitas pecinta anggrek, Endang juga aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai teknik konservasi mandiri. Metode yang diperkenalkan meliputi penyemaian dan penaburan biji anggrek dengan cara yang lebih sederhana sehingga mudah diterapkan oleh berbagai kalangan.
Selain pendekatan masyarakat, konservasi juga dilakukan melalui inovasi ilmiah. Endang bersama mahasiswa Fakultas Biologi UGM mengembangkan teknik kultur in vitro untuk memperbanyak berbagai jenis anggrek yang berasal dari sejumlah daerah di Indonesia. Teknologi tersebut menjadi salah satu solusi dalam menjaga keberlanjutan plasma nutfah anggrek nasional.
Dukungan terhadap pelestarian anggrek juga datang dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemerintah daerah memproyeksikan Vanda tricolor sebagai ikon daerah dan mendorong penanaman anggrek di berbagai instansi perkantoran. Langkah itu diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi anggrek.
Peran aktif juga ditunjukkan oleh Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI). Organisasi tersebut turut membudidayakan berbagai temuan anggrek baru dengan menyesuaikan kondisi habitat aslinya. Selain itu, PAI rutin menyelenggarakan seminar, pameran, dan kompetisi anggrek sebagai sarana edukasi sekaligus upaya pelestarian.
Endang berharap masyarakat semakin mengenal dan mencintai anggrek Indonesia. Berbagai kolaborasi lintas bidang terus dilakukan, termasuk melalui penulisan buku berbasis hasil penelitian, guna mendokumentasikan kekayaan anggrek Nusantara sekaligus meneruskan perjuangan para pecinta anggrek terdahulu.
“Anggrek adalah identitas bangsa, maka tugas kita bersama adalah memastikan kelestariannya,” tutup Endang.
Sumber: Trubus / Universitas Gadjah Mada (UGM).

