Hati Seluas Samudera : Di Balik Pintu Solo, Jokowi Peluk Eggi Sudjana dan Damai Lubis dalam Maaf”

Hati Seluas Samudera : Di Balik Pintu Solo, Jokowi Peluk Eggi Sudjana dan Damai Lubis dalam Maaf”

CP – Terik matahari Solo di awal Januari 2026 mulai meredup, menyisakan semburat jingga di atas atap rumah kayu di kawasan Sumber. Di dalam ruang tamu yang bersahaja, aroma teh nasgithel—panas, manis, dan kental—mengepul dari tiga cangkir lurik. Suasana begitu hening, hingga deru napas pun terdengar jelas.

Di satu sisi meja, duduk Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis. Wajah yang biasanya meledak-ledak di layar televisi itu kini tampak kaku, guratan kegelisahan terpahat dalam di dahi mereka. Di hadapan mereka, duduk pria yang selama bertahun-tahun menjadi sasaran serangan narasi mereka: Joko Widodo.

Jokowi memecah kebekuan dengan gerakan tangan yang santai, mempersilakan tamunya mencicipi hidangan pasar yang tersaji.

“Diminum dulu tehnya, Pak Eggi, Pak Damai. Mumpung masih panas,” ujar Jokowi dengan nada yang datar namun renyah, seolah mereka hanyalah tetangga lama yang sedang bertamu.

Eggi Sudjana berdehem, mencoba membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Ia menatap cangkir tehnya, lalu perlahan mengangkat wajahnya. “Terima kasih, Pak. Jujur saja… duduk di sini, di hadapan Bapak, terasa lebih berat daripada menghadapi ribuan massa di jalanan.”

Jokowi terkekeh kecil, gaya khas yang tak berubah meski ia tak lagi di istana. “Lho, berat kenapa? Kursinya empuk begitu kok.”

“Bukan kursinya, Pak,” sahut Damai Hari Lubis dengan suara yang lebih rendah. “Beban di hati kami. Kami datang membawa permohonan maaf yang tulus. Polemik ijazah itu… kami sadar telah menciptakan kegaduhan yang luar biasa. Kami tidak ingin hubungan ini berakhir di ruang sidang yang dingin sebagai tersangka. Kami ingin pulang sebagai saudara.”

Jokowi terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu jati, menatap langit-langit ruang tamu seolah sedang memutar kembali memori satu dekade terakhir. Kehinaan, fitnah, dan tuduhan ijazah palsu itu adalah badai yang menerjangnya tanpa henti.

Baca Juga :  Hadapi Natal dan Tahun Baru Gubernur Gratiskan Sembako

“Pak Eggi, Pak Damai,” kata Jokowi pelan, menatap keduanya bergantian dengan tatapan teduh. “Kalau saya simpan semua omongan orang di hati, mungkin saya sudah menyerah sejak dulu. Tapi saya ini orang desa, sudah biasa ‘digebuk’. Sebelum Bapak berdua mengetuk pintu rumah saya sore ini, pintu maaf saya sudah terbuka lebar. Dendam itu hanya bikin lelah.”

Mendengar itu, Eggi Sudjana tampak tertegun. Matanya berkaca-kaca. Seorang pria yang selama ini dikenal tak kenal takut, kini tampak rapuh oleh sebuah kata bernama pengampunan.

“Bapak benar-benar memaafkan kami? Tanpa syarat?” tanya Eggi dengan suara yang sedikit bergetar.

“Tanpa syarat,” jawab Jokowi mantap. “Sudahlah, yang lalu biar jadi sejarah. Sekarang, kita bicara bagaimana ke depannya. Indonesia ini sudah terlalu bising dengan pertengkaran. Mari kita kasih contoh ke anak muda, bahwa berselisih boleh, tapi bersaudara itu wajib.”

Percakapan yang tadinya kaku pun mencair. Mereka mulai mengobrol layaknya kawan lama—bicara soal cucu, soal nikmatnya kuliner Solo, hingga rencana Jokowi menikmati masa pensiun dengan berkebun. Di ruang tamu itu, status “tersangka” dan “mantan presiden” luntur, digantikan oleh tiga orang manusia yang sepakat untuk berdamai dengan masa lalu.

Sore itu, di bawah atap rumah di Solo, Indonesia belajar satu hal penting : bahwa memaafkan adalah kasta tertinggi dari keberanian seorang pemimpin.

Bagaimana menurut Anda? Apakah pelukan perdamaian di Solo ini sudah cukup untuk menutup buku kasus ijazah palsu melalui jalur restorative justice, ataukah hukum harus tetap berjalan di atas meja hijau?

Sumber : ✍️Lentera Merah Putih