Hari Bumi : Populasi Tembus Batas, Masihkah Alam Sanggup Menopang Kita.
Peringatan Hari Bumi pada 22 April ini menjadi momentum krusial untuk menilik kembali beban fisik yang ditanggung planet kita.
Saat ini, jumlah penduduk dunia telah menyentuh angka 8,3 miliar jiwa menurut catatan terbaru. Angka ini merupakan lompatan besar jika dibandingkan dengan data dekade sebelumnya, di mana laporan The World Population Prospects: The 2017 Revision dari UN Department of Economic and Social Affairs sempat mencatat angka 7,6 miliar jiwa.
Dengan rata-rata penambahan 83 juta orang setiap tahunnya, tren kenaikan ini diprediksi akan terus berlanjut hingga mencapai 8,6 miliar pada 2030, lalu melonjak ke 9,8 miliar pada 2050, dan menyentuh 11,2 miliar pada abad berikutnya di tahun 2100.
Laju pertumbuhan ini didorong oleh konsentrasi populasi di beberapa wilayah, terutama di Afrika yang mengalami ekspansi pesat. Antara tahun 2017 hingga 2050, 26 negara di benua tersebut diperkirakan akan melipatgandakan jumlah penduduknya.
Setengah dari pertumbuhan global hingga 2050 bahkan hanya akan terpusat di sembilan negara, yaitu India, Nigeria, Democratic Republic of the Congo, Pakistan, Ethiopia, United Republic of Tanzania, Amerika Serikat, Uganda, dan Indonesia.
Namun, di balik angka-angka pertumbuhan tersebut, muncul sebuah pertanyaan mendasar mengenai daya dukung lingkungan. Apakah Bumi benar-benar mampu menyediakan sumber daya yang cukup bagi miliaran manusia baru ini, dan apa dampaknya jika kita terus memaksakan batas regenerasi alam?

Foto Kerumunan orang membanjiri Stasiun Kereta Api Churchgate di Mumbai, India.
Antara Ledakan Demografi dan Batas Kapasitas Planet
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan regenerasi alam mulai kedodoran menghadapi permintaan manusia. Sebuah studi dalam jurnal Environmental Research Letters mengungkapkan fakta pahit.
Corey Bradshaw dari Flinders University menyatakan, “Bumi tidak dapat mengikuti cara kita menggunakan sumber daya.”
Berdasarkan model pertumbuhan ekologis dua abad terakhir, tim peneliti menemukan bahwa meski angka kelahiran mulai melambat sejak 1960-an, populasi tetap akan mencapai puncaknya di angka 11,7 hingga 12,4 miliar pada akhir 2060-an atau 2070-an.
Padahal, kapasitas daya tampung optimum Bumi dengan standar hidup layak hanya berkisar di angka 2,5 miliar jiwa.
Ketimpangan ini terlihat dari ketergantungan manusia pada bahan bakar fosil untuk mensubsidi kebutuhan pangan dan energi. Namun, solusi teknologi ini justru memperburuk krisis.
UNEP melalui laporan Global Environment Outlook (GEO-7) memperingatkan bahwa tanpa langkah drastis, emisi gas rumah kaca akan naik 50 persen menjadi 75 miliar ton per tahun pada 2050. Pada tahun yang sama, ekstraksi bahan mentah seperti mineral dan fosil diprediksi melonjak 60 persen dari level tahun 2020 menjadi 165 miliar ton per tahun.
“Dengan upaya seluruh pemerintah dan masyarakat, manusia masih bisa memutar arah kapal,” ujar Maarten Kappelle dari UNEP.
Namun, jika langkah nyata tidak segera diambil, kerugian ekonomi akibat perubahan iklim diprediksi akan memotong 4 persen PDB global per tahun pada 2050 dan membengkak hingga 20 persen pada 2100.
Ancaman Krisis dan Transformasi Masa Depan
Dampak dari kepadatan penduduk dan eksploitasi lahan ini sangat nyata bagi kelangsungan hidup. Laporan GEO-7 memodelkan bahwa pada 2050, sekitar 9,2 miliar orang akan terpapar gelombang panas ekstrem.
Dunia juga akan kehilangan 1 juta kilometer persegi hutan dan lahan gambut akibat perluasan lahan pertanian demi memenuhi kebutuhan pangan manusia yang semakin gemar mengonsumsi daging. Hal ini memicu penurunan keragaman spesies sebesar 3 persen.
Krisis air pun mengintai, di mana 3,3 miliar orang atau sepertiga penduduk dunia akan menghadapi stres air pada 2050. Selain itu, sekitar 4,2 miliar orang akan menghirup udara dengan kadar polusi PM 2.5 yang berbahaya, yang diprediksi merugikan ekonomi global hingga AS$18-25 triliun sampai tahun 2060.
Di sisi lain, perubahan struktur umur penduduk juga membawa tantangan sosial yang berat. Penurunan tingkat kesuburan global, kecuali di Eropa yang sempat mengalami kenaikan tipis dari 1,4 menjadi 1,6 kelahiran per perempuan pada 2010-2015, menyebabkan penuaan populasi.
Jumlah lansia usia 60 tahun ke atas diproyeksikan melonjak dari 962 juta di tahun 2017 menjadi 2,1 miliar pada 2050 dan 3,1 miliar pada 2100. Meski angka harapan hidup global meningkat menjadi 69 tahun untuk pria dan 73 tahun untuk wanita, tekanan terhadap sistem pensiun dan kesehatan akan semakin besar.
Upaya mengatasi kemiskinan dan kelaparan bagi 132 juta orang yang terancam jatuh miskin akibat perubahan iklim pada 2040 memerlukan perubahan gaya hidup dan kebijakan yang luar biasa.
Jika tidak ada perombakan total dalam penggunaan lahan dan energi, batas-batas alam yang terlewati akan membawa kita pada titik tanpa jalan kembali.
Sumber : Nationalgeographic.co.id

