Menjaga Tebat Rasau, Sungai Purba Peninggalan Era Dinosaurus

Menjaga Tebat Rasau, Sungai Purba Peninggalan Era Dinosaurus
Foto Pak Nasidi, Ketua Komunitas Lanun yang berkomitmen menjaga Tebat Rasau sebagai warisan harta karun purba

Cakrawala Pedia – “Kita hidup itu jangan serakah. Apapun harus kita hormati,” ujar Pak Nasidi sambil menatap Tebat Rasau di depan matanya saat mengobrol di pondok yang menjadi sekretariat Komunitas Lanun.

Bukan sekedar pesan bijak, melainkan prinsip yang terus dibawa oleh Pak Nasidi bersama anggota komunitasnya untuk menjaga ekosistem. Mayoritas anggota Kelompok Lanun adalah nelayan sungai yang sangat bergantung dengan alam sebagai sumber mata pencahariannya. Sehingga, menjaga Tebat Rasau tidak lagi menjadi pilihan, tapi suatu kewajiban agar sumber hidup mereka tidak segera habis atau rusak.

Tebat Rasau: Sungai Purba Benua Besar

Rasa hormat Pak Nasidi terhadap alam khususnya sungai, tidak hanya berdasarkan warisan budaya Belitung. Kepeduliannya ini terhubung dengan pengetahuan sains yang luar biasa.

Selain hasil sungai yang berharga bagi masyarakat Desa Lintang, Tebat Rasau merupakan “Harta Karun Geologis” peninggalan era Pleistocene yang masih bisa dilihat saat ini. Sungai ini merupakan bukti nyata bahwa Belitung dulunya pernah menjadi bagian dari benua besar yang menghubungkan nusantara, Sundaland.

Foto Peta Asia Tenggara tropis dan Australasia yang menggambarkan kontur kedalaman 10, 20, 30, 40, 50, 75, 100, dan 120 m di bawah permukaan saat ini. Peta berasal dari jurnal yang ditulis oleh Harold K. Voris (2000)

Jutaan tahun lalu, sungai raksasa mengalir di sini, membawa ikan-ikan melintasi pulau yang kita kenal sekarang. Inilah berbagai jenis ikan di Tebat Rasau yang menjadi bukti konektivitas lampau:

  • Ikan arwana Asia (Scleropages formosus): Dikenal sebagai “ikan naga”, arwana ini adalah penghuni asli sungai purba yang masih bertahan.
  • Ikan buntal air tawar (Pao sp.): Berbeda dengan jenis di Sumatra, buntal di sini justru identik dengan spesies yang ditemukan di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.
  • Kura-kura air tawar (Orlitia borneensis): Masyarakat lokal menyebutnya Byuku, nama yang sama dengan yang digunakan masyarakat di Kalimantan.

Selain itu, ratusan spesies ikan lainnya seperti cempedik (Osteochilus spilurus), temelayar kaca (Gymnochanda verae), dan temeliyongan (Chaca bankanensis) juga hidup di sungai purba Belitung ini.

Foto Ikan buntal air tawar non-beracun di Tebat Rasau yang mirip ikan buntal di Sungai Mahakam. Foto oleh Ary Prihardhyanto Keim, et al., (2021)

Belitung, Puing Era Dinosaurus

Jika Tebat Rasau adalah bukti adanya benua besar dan jendela menuju zaman es, maka batuan dasar Belitung membawa kita jauh lebih dalam ke era Dinosaurus. Secara geologis, Belitung didominasi oleh sedimen periode Jurassic, masa di mana dinosaurus berada di puncak populasinya.

Usia daratan yang sangat tua ini menciptakan kondisi mineralisasi timah yang melimpah. Namun, kekayaan ini pula yang menjadi ancaman bagi Pulau Belitung. Secara khusus, Tebat Rasau yang berada di Desa Lintang, Kabupaten Belitung Timur dikepung dampak sisa pertambangan timah, alih fungsi lahan, dan memori kelam perburuan masif arwana di era 90-an.

Padahal aliran sungai besar yang terkoneksi dengan Tebat Rasau menjadi jalur konektivitas penting bagi pengelolaan ekosistem kepulauan kecil ini. Ketika sungai membawa berbagai dampak kerusakan dari darat, maka ekosistem laut pun ikut mengalami kerusakan dan berpotensi mengurangi biotanya.

Foto Byuku (Orlita borneensis) yang hidup di Tebat Rasau oleh Nasidi

Konservasi Berbasis Kearifan Lokal dan Adat

Menyadari besarnya nilai sejarah bumi yang tersimpan di Tebat Rasau sekaligus besarnya ancaman yang mengepung, Pak Nasidi memilih untuk melawan dengan cara yang paling ia pahami: kembali ke akar budaya. Sejak mendirikan Komunitas Lanun pada 2018, ia yakin bahwa jika adat hilang, maka rasa hormat terhadap hukum formal pun akan luntur.

Baca Juga :  Ini Aturan Baru Menkeu Soal Defisit APBD Tahun 2026.

Ada beberapa kearifan ekologis yang dijaga ketat oleh masyarakat Desa Lintang dan masih dipegang teguh oleh Pak Nasidi:

  1. Hutan Riding: Larangan menyatukan lahan ladang agar tersisa sabuk hutan asli sebagai penyimpan bibit pohon dan habitat satwa.
  2. Nirok Nanggok: Tradisi menangkap ikan komunal dengan aturan ketat: anak ikan wajib dilepaskan kembali agar ekosistem tetap berkelanjutan.
  3. Pantangan Sungai: Larangan menggunakan umpan amis dan larangan bagi wanita menstruasi untuk menjaga sungai dari gangguan predator seperti buaya.

Di sini, sosok ‘Dukun’ (Dukun Tua, Dukun Angin, dan Dukun Air) masih memegang peran kunci dalam menjaga adat. Suara mereka masih sangat didengarkan untuk mendampingi pemerintah desa dalam menjaga harmoni alam melalui upacara adat seperti Maras Taun.

Ekowisata, Strategi Menuju Kelestarian

Perjuangan Komunitas Lanun saat ini sudah mendapatkan pengakuan global saat Tebat Rasau ditetapkan sebagai salah satu geosite Geopark Belitung oleh UNESCO pada 2021 lalu. Hal ini membuka peluang pada pengembangan Ekowisata Berbasis Komunitas.

Bersama denga Pokdarwis Tebat Rasau, Pak Nasidi sangat berhati-hati dalam mengelola wisata ini. Ia sempat menolak sistem tiket prabayar demi satu tujuan: edukasi. Ia ingin anak-anak lokal bisa masuk secara gratis untuk belajar mencintai warisan mereka sendiri.

Kini, melalui dukungan program SOLUSI yang diimplementasikan oleh mitra lokal KEHATI yaitu Yayasan Tarsius Center Indonesia (TCI), komunitas akan mengembangkan:

  • Eksplorasi Jalur Jelajah Baru: Menelusuri hutan rasau (Pandanus helicopus) yang lebat.
  • Arboretum: Penanaman kembali jenis pohon rempah yang umum ditanam pada Kelekak (hutan buah warisan) seperti melantangan, pasak bumi, hingga akar kuning.
  • Produk Lokal Berkelanjutan: Mengolah daun pohon pelawan menjadi “Teh Pelawan” yang berkhasiat obat.

Dukung Pejuang Sungai Purba Sekarang!

Tebat Rasau bukan hanya milik Desa Lintang, tapi warisan dunia yang menceritakan sejarah bumi. Dukungan Anda melalui ekowisata langsung memberikan insentif bagi masyarakat untuk terus menjaga sungai purba ini dari kerusakan.

Bagaimana Anda Bisa Membantu?

  • Kunjungi Tebat Rasau: Rasakan sensasi berada di jalur air purba.
  • Beli Produk Lokal: Nikmati paket makan bedulang dan Teh Pelawan.
  • Sebarkan Kisah Ini: Bantu suara Pak Nasidi terdengar lebih luas.

Ikuti perjuangan masyarakat Desa Lintang di Instagram: @tebat_rasau_lintang

#SOLUSIDaratLautLestari

Referensi:

Hasan, V., Rahmawati, I. P., Guntoro, J., South, J., Valen, F. S., Tamam, M. B., Hardian, A. B., Andriyono, S., Nurjirana, N., & Kamarudin, A. S. (2025). Orlitia borneensis (Gray, 1873) (Testudines, Geoemydidae), Malaysian Giant Turtle, from Belitung Island, Indonesia: Filling a distribution gap. Check List, 21(5), 807–812. https://doi.org/10.15560/21.5.807

Juniarti, T. R. (2022). Pemaknaan dan nilai dalam upacara adat Maras Taun di Kabupaten Belitung. Jurnal Dinamika Sosial Budaya (JDSB), 24(1), 33-46. https://doi.org/10.26623/jdsb.v21i2.1698

Keim, A. P., Fithrorozi, Adi, T. R., Indarjani, R., Akbar, F., Amsoni, Y., Hasanah, I. F., & Sujarwo, W. (2021). Tebat Rasau Geopark: Ethnobiology and ethnogeology of a Pleistocene river in Belitung, Indonesia. Journal of Tropical Ethnobiology, 4(2), 130-149. https://doi.org/10.46359/jte.v4i2.101

Khanati, O., Lista, D., Lindiatika, L., Lestari, E., Hafidz, A. M., Hidayat, R., Prananda, M., Kanaah, A., Wijayanti, A., Anjani, T. P., Wijaya, I., & Kurniawan, A. (2023). Iktiofauna eksotik di Tebat Rasau, Belitung Timur. Journal of Aquatropica Asia, 8(1), 45-54. https://doi.org/10.33019/joaa.v8i1.4243

Siburian, R. (2014). Kearifan lokal versus kelestarian mangrove: Upaya menjaga kawasan pesisir Kabupaten Belitung dari kerusakan. Jurnal Masyarakat & Budaya, 16(1), 81-112. https://doi.org/10.14203/jmb.v16i1.44

Voris, H. K. (2000). Maps of Pleistocene sea levels in Southeast Asia: Shorelines, river systems and time durations. Journal of Biogeography, 27, 1153–1167. https://doi.org/10.1046/j.1365-2699.2000.00489.x

 

Penulis : Desi Natalia (Yayasan Kehati).